Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)
Nama dan nasab
Beliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.
Kelahiran Al-Hasan Al-Bashri
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.
Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.
Sifat dan penampilan fisik Al-Hasan
Imam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,
كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا
“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”
Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,
ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه
“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”
Hammad bin Salamah berkata,
رأيت الحسن يُصفِّر لحيته
“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”
Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,
إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام
“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”
Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-Bashri
Disusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabat
Ibu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.
Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,
اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس
“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”
Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ibnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,
كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي
“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”
Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.
Guru-guru
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.
Murid-murid
Banyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.
Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-Bashri
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.
Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,
كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط
“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.
Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”
Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,
عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه
“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”
Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”
Anas menjawab,
إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا
“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”
Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,
عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه
“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”
Yunus bin ‘Ubaid berkata,
كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء
“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”
Qatadah bin Di‘amah berkata,
كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام
“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”
Qatadah juga berkata,
ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن
“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”
Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,
يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه
“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”
Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-Bashri
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.
Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’
Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”
‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,
كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه
“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”
Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’
Maka Al-Hasan berkata,
أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا
‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/115235-biografi-al-hasan-al-bashri-bag-1.html